BANJARMASIN — Kepala Perwakilan Ombudsman Kalsel Hadi Rahman menyatakan kadar garam air baku selama 24 jam terakhir tidak pernah turun di bawah 1.000 mg/L. Angka tertinggi tercatat di IPA 1 A Yani, yakni 7.300 mg/L, atau sekitar 24 kali lipat ambang batas yang ditetapkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.
Kondisi itu membuat air baku berisiko jika digunakan untuk konsumsi. Ombudsman menilai intrusi air laut yang makin jauh ke daratan menjadi penyebab utama defisit air baku di PAM Bandarmasih.
Ambang batas klorida dalam air minum menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 adalah 300 mg/L. Kadar yang ditemukan Ombudsman di IPA 1 A Yani mencapai 7.300 mg/L.
Selama 24 jam pemantauan, angka terendah pun masih di atas 1.000 mg/L. Artinya, sepanjang hari itu tidak ada satu pun periode di mana air baku masuk kategori aman untuk dikonsumsi langsung.
"Dalam catatan kami, selama 24 jam terakhir kadar garam selalu di atas 1.000 mg/L. Kondisi seperti ini berisiko dan berbahaya untuk dikonsumsi," tegas Hadi.
Direktur Utama PAM Bandarmasih Zulbadi menjelaskan gangguan distribusi air melanda tiga kecamatan: Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah, dan Banjarmasin Utara. Hasil audiensi dengan warga menunjukkan sekitar 70 persen terdampak menginginkan pasokan air bersih darurat, terutama untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
PAM Bandarmasih merespons dengan menyiapkan mobil tangki dan tandon air. Sebanyak 20 tandon ditempatkan di ujung jaringan distribusi dan diisi secara berkala. Masjid dan musala digandeng sebagai titik penampungan sementara bagi warga sekitar.
Ombudsman meminta PAM Bandarmasih membuka informasi soal lokasi tandon, jalur mobil tangki, dan layanan air gratis kepada masyarakat luas. Warga di tiga kecamatan itu perlu tahu ke mana harus mengambil air tanpa harus menunggu pengumuman mulut ke mulut.
Selain itu, Ombudsman menyarankan jumlah tandon dan frekuensi pengisian ditambah. Permintaan ini muncul karena kapasitas 20 tandon dinilai belum tentu sebanding dengan jumlah rumah tangga yang kehilangan pasokan air bersih.
Hadi menegaskan langkah tangki dan tandon hanya bersifat jangka pendek. Pemerintah daerah diminta mendukung solusi jangka menengah dan panjang agar defisit air baku tidak berulang setiap kali intrusi air laut menguat.
Sejumlah opsi yang dibahas mencakup pembangunan pipa transmisi berdiameter 1.200 mm dari Pematang ke IPA 2 Pramuka, pembuatan embung, dan bak prasedimentasi sebagai cadangan air baku. Ketiga infrastruktur itu dinilai bisa menahan masuknya air laut ke sumber baku PAM Bandarmasih.
Sampai langkah permanen itu terwujud, warga Banjarmasin Barat, Tengah, dan Utara masih bergantung pada pasokan darurat dari mobil tangki serta tandon yang tersebar di ujung jaringan distribusi.