Xbox Rombak Struktur Kepemimpinan dan Hentikan Fitur Copilot Demi Fokus Komunitas

Penulis: Zulham Nasution  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 10:32:01 WIB
CEO Xbox Asha Sharma melakukan restrukturisasi besar dalam jajaran kepemimpinan perusahaan.

CEO Xbox Asha Sharma merombak total jajaran kepemimpinan dengan menarik sejumlah eksekutif dari divisi CoreAI Microsoft sekaligus menghentikan pengembangan fitur Copilot di konsol. Langkah drastis ini diambil untuk memulihkan performa bisnis Xbox yang belakangan melambat dan gagal memenuhi target pendapatan perusahaan. Perubahan strategis ini menandai pergeseran fokus Microsoft dari sekadar integrasi AI generatif menuju perbaikan fundamental pengalaman pemain dan pengembang.

Microsoft tengah melakukan manuver besar-besaran untuk menyelamatkan divisi gaming mereka. CEO Xbox, Asha Sharma, yang baru menjabat sejak Februari lalu, mulai menunjukkan taringnya dengan merestrukturisasi hierarki organisasi. Dalam memo internal yang dikirimkan kepada karyawan, Sharma menegaskan perlunya evolusi dalam cara kerja tim platform Xbox agar mampu menghadirkan dampak nyata secara lebih gesit.

Salah satu keputusan paling mencolok adalah penghentian pengembangan asisten AI Copilot pada konsol dan aplikasi mobile Xbox. Langkah ini terbilang unik mengingat Microsoft sedang gencar mengintegrasikan AI ke hampir seluruh ekosistem produknya, mulai dari Windows hingga Office. Namun, bagi Xbox, keberadaan Copilot dianggap tidak selaras dengan arah baru perusahaan yang ingin memangkas fitur-fitur yang dianggap menambah beban operasional tanpa memberikan nilai tambah signifikan bagi pemain.

Misi Memangkas Birokrasi dan Hambatan Teknis

Asha Sharma membawa gerbong eksekutif dari divisi CoreAI Microsoft untuk mengisi posisi-posisi krusial di Xbox. Jared Palmer, mantan Vice President CoreAI, kini menjabat sebagai Vice President of Engineering di Xbox. Palmer akan bekerja langsung di bawah Sharma untuk menangani masalah produk dan rekayasa yang kompleks, dengan fokus utama pada infrastruktur dan alat bantu bagi pengembang (developer tooling).

Selain Palmer, nama-nama besar lain yang turut diboyong meliputi Tim Allen yang akan memimpin divisi desain, serta Jonathan McKay yang memegang kendali pertumbuhan (growth). Evan Chaki juga ditunjuk untuk memimpin grup rekayasa baru yang bertugas menghapus pekerjaan repetitif dan menyederhanakan proses pengembangan di dalam internal Xbox.

"Saat ini, terlalu sulit untuk meluncurkan dampak dengan cepat. Kami menghabiskan terlalu banyak waktu untuk urusan internal daripada bersama komunitas, dan kami kekurangan kedalaman yang dibutuhkan pada beberapa hal fundamental," tulis Sharma dalam memo tersebut.

Upaya Memulihkan Performa Bisnis yang Lesu

Restrukturisasi ini bukan tanpa alasan. Pada akhir April lalu, Sharma mengakui bahwa pertumbuhan jumlah pemain dan pendapatan Xbox belum memenuhi ambisi perusahaan. Xbox sedang berjuang menghadapi realitas pasar di mana layanan langganan Game Pass mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dan penetrasi di pasar PC gaming yang belum maksimal.

Sebagai bagian dari strategi "get the business back on track", Xbox tidak hanya merombak orang-orang di balik layar, tetapi juga meninjau ulang strategi pemasaran dan layanan. Kampanye pemasaran "This is an Xbox" yang sempat menuai kritik kini mulai ditinggalkan. Di saat yang sama, Microsoft juga telah melakukan penyesuaian harga dan struktur layanan Game Pass untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Prioritas pada Pengembang dan Ekosistem Pemain

Meskipun jajaran pemimpin baru ini memiliki latar belakang AI yang kuat, fokus mereka kali ini bukan untuk memaksakan fitur AI ke dalam konsol. Sebaliknya, keahlian mereka akan digunakan untuk membangun alat dan layanan kelas dunia yang memudahkan pengembang dalam menciptakan gim. Efisiensi teknis menjadi kata kunci utama dalam transformasi ini.

David Schloss, mantan eksekutif Instacart yang kini menjabat sebagai Head of Subscriptions and Cloud, diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam mengelola ekosistem langganan Xbox. Dengan tim baru ini, Microsoft berharap bisa mengurangi friksi yang selama ini dirasakan oleh para pemain dan pengembang di ekosistem Xbox.

"Xbox perlu bergerak lebih cepat, memperdalam koneksi kami dengan komunitas, dan mengatasi hambatan bagi pemain maupun pengembang," tegas Sharma. Transisi ini menunjukkan bahwa Microsoft mulai bersikap realistis: teknologi canggih seperti AI tidak akan berguna jika fundamental bisnis dan kepuasan pengguna tidak dibenahi terlebih dahulu.

Reporter: Zulham Nasution
Back to top